KH. Syamsuddin Asyrofi : Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1446 H Untuk Penguatan Kerukunan Antar umat Beragama

 



Kasihinfo.com --  Ketua  Forum Kerukunan Umat Beragama  ( FKUB  ) Kabupaten Klaten KH Syamsuddin Asyrofi  mengatakan bahwa adanya Perayaan Hari Raya Nyepi  tahun Çaka 1947 yang hampir bersamaan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri  1446 H/2025 M merupakan  momen penting untuk penguatan kerukunan antar umat beragama di tanah air.


Hal itu disampaikan  Syamsuddin Asyrofi  di Klaten berkenaan dengan akan datangnya  hari raya Nyepi  dan hari Raya Idul Fitri  yang waktunya hampir bersamaan di tahun 2025 ini. 


"Saya atas nama pribadi, keluarga, dan  mewakili FKUB Kabupaten Klaten menyampaikan  selamat memperingati Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu dan Selamat Merayakan hari Raya Idul Fitri  bagi Umat Islam di Klaten dan seluruh masyarakat  di tanah air" katanya.


Hampir satu bulan  kata Syamsuddin umat islam sedang  menjalankan Ibadah Puasa. Sementara Umat Hindu akan merayakan Hari Raya Nyepi tanggal 29 Maret 2025, dan umat Islam tanggal 31 Maret 2025 merayakan Hari Raya Idul Fitri.


"Sejak memasuki bulan suci ramadhan kami  mengajak dan  meminta kerjasama seluruh umat beragama menjaga  persaudaraan  dan toleransi untuk mendukung kaum muslim yang sedang menjalankan ibadah puasanya agar lancar dan sukses hingga akhir." katanya.


Di bulan Maret  ini merupakan bulan penuh dengan peristiwa rohani, yakni dimana saudara-saudara kaum muslim menjalankan ibadah puasa,  umat Hindu merayakan  Hari Raya Nyepi dan teman-teman umat Kristen juga memperingati hari Minggu Sengsara yakni hari-hari kehidupan terakhir Yesus Kristus menjelang peristiwa penyalipan menurut keyakinan umat Kristen. 


" Oleh karena itu kami  berharap peristiwa ini tidak saja menjadi peristiwa sejarah yang dirayakan setiap tahun, tetapi sungguh mewarnai setiap  perilaku, cara berpikir, bertindak, berkata, dan bersikap." katanya. 


Syamsuddin berharap  semua umat beragama dapat memanfaatkan masa-masa ini untuk lebih memacu  dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan lebih baik, menjaga kerukunan, persaudaraan dan  toleransi.


"Menjaga toleransi dimaknai sebagai sikap untuk saling menghormati dan menghargai atas perbedaan yang ada di antara umat manusia. Pelaksanaannya dilakukan oleh kedua belah pihak secara bersama-sama, umat yang berpuasa maupun umat yang tidak menjalankan ibadah puasa" katanya.


Toleransi menurutnya  juga dimaknai sebagai memberi kebebasan atau membiarkan orang lain mengungkapkan pendapatnya dan berlaku sabar dalam menghadapi orang lain. Perwujudan nilai toleransi dilakukan melalui dua sikap yaitu menghormati keyakinan lain tanpa berpretensi menyalahkan dan bekerjasama dalam bidang tertentu. 


"Oleh karena itu jika keharmonisan tidak ditanamkan demi kesatuan bangsa, maka prinsip membangun persaudaraan dengan baik tidak akan tercapai , karena agama memiliki peranan yang dominan dalam menciptakan masyarakat berbudaya" katanya. 


Agama menurutnya dapat dikatakan memainkan sebuah peran yang baik apabila mampu memberikan kepada pemeluknya suatu gambaran nilai-nilai luhur. Sebaliknya, jika agama memegang peran ke arah negatif, maka hal ini akan menyebabkan pemeluknya terkurung ke dalam pikiran yang sempit dan menimbulkan konflik keagamaan.


"Itulah sebabnya tidak sefaham bukan alasan untuk saling bermusuhan. Keragaman dalam suatu komunitas bisa memberikan energi positif apabila digunakan sebagai modal untuk bisa bersama membangun bangsa dalam hubungan yang saling memberi dan menerima" ujarnya. 


Namun terhadap sesuatu yang universal, seperti membangun kemaslahatan bersama, maka hal ini menjadi inti pokok ajaran Islam. Kehadiran agama Islam adalah untuk menebarkan kemaslahatan.


"Oleh sebab itu, kedatangan bulan Ramadan itu  sarat dengan etika kesalehan sosial yang sangat tinggi. Setiap orang dituntut untuk melakukan pengendalian diri, disiplin, kesabaran, kejujuran serta menjunjung tinggi kerukunan umat. Selain itu, bulan Ramadan merupakan bulan yang erat dengan potret yang mengarah kepada eratnya keshalihan pribadi dengan keshalihan sosial  antar umat beragama" pungkasnya. . ( *Moch.Isnaeni* )

أحدث أقدم